Kontradiksi "Perempuan Berkalung Surban"

17.14 / Diposting oleh Mr. Airlangga /

Badung. Debat seputar film "Perempuan Berkalung Surban"sangat menarik untuk diikuti. Perbedaan pendapat dan cara pandang antara produser muda berbakat Hanung B dengan para Tokoh ulama menyiratkan penuh makna dan eksplorasi tarhadap nilai-nilai Islam secara mendalam. Didalam beberapa perdebatan, sering kali yang dibicarakan adalah peranan sang ayah tokoh utama (Read : Aisyah) yang menghambat keinginan sang anak perempuannya untuk menimba ilmu lebih tinggi. Yang menjadi masalah adalah sang ayah ini dirupakan sebagai ulama dari suatu pesantren di era 1980-an. Dan memang scenenya di ambil di lingkungan pesantren. Dan beberapa adegan yang sangat kontroversi seperti : Pada suatu saat dikumandangkan adzan, namun sang suami lagi ingin dipuaskan hasratnya oleh istrinya, kemudian dia menyuruh sang istri untuk melayaninya dengan pembenaran dalih hadis-hadis yang dibacakannya. Selain itu juga terlontar ungkapan dari aisyah "Zinai aku.." merupakan perkataan yang sangat mengerikan dan terlontarkan dari mulut seorang wanita muslim. Kemudian tamparan sang suami (Ulama) kepada istri yang menyiratkan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) apalagi suami ini adalah ulama pesantren. Hukum Rajam yang tidak sesuai dengan kaidah yang benar. Hal ini dianggap melecehkan agama. Dalam perdebatan, para ulama juga memberikan latar belakang historis yang didasarkan pada desertasi ilmiah bahwa pesantren-pesantren telah mengalami perubahan pada era 80-an sehingga tidak mungkin jika masih ada pesantren di daerah Jawa Timur memiliki pemikiran yang kolot seperti yang digambarkan dalam film tersebut. Apalagi pada kurun waktu yang kurang lebih sama, sehingga film ini dianggap ahistoris. Selain itu saat ini, banyak alumnus pesantren terutama muslimah yang terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurut kaca mata mereka pesantren, tidak akan membatasi perempuan untuk menimba ilmu tetapi menghargai dan menghormati wanita sebagai umat muslim yang berkarya dan berwawasan luas. Sehingga beberapa ulama sepakat untuk menyerukan kepada masyarakat untuk tidak menonton film ini

Argumen Produser dan Pendukung
Hanung Bramantyo berusaha untuk meluruskan pandangan-pandangan terhadap filmnya yang sedang di putar di Jakarta. Menurutnya, film ini memberikan gambar contoh ulama yang benar dan tidak benar. Benar dan tidak benar ini digambarkan dalam tokoh-tokohnya dalam film tersebut. Ayah dari sang tokoh utama ini, digambarkan sebagai ulama pesantren yang menggunakan dalil-dalil islam untuk kepentingannya. Hingga mengakar kuat juga ke istrinya. Tidak hanya figur ayahnya, ibu sang tokoh juga menganjurkan agar tokoh utama dapat menerima kodratnya sebagai seorang wanita. Wanita yang tinggal di rumah saja dan melayani suami. Tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi. Dan adegan-adegan yang bernuansa negatif itu juga dijalankan oleh tokoh-tokoh yang belum mengerti nilai dan ajaran Islam secara mendalam.
Namun masih ada tokoh dalam film tersebut yang memerankan figur yang benar. Film inipun didukung oleh para penggemarnya, sanggah penggemarnya adalah film ini merupakan protes sosial agamis terhadap lingkungan pesantren yang mungkin masih melakukan ajaran seperti yang ada dalam film tersebut. Dan film ini diharapkan dapat merubah tingkah laku para ulama yang masih mengadopsi perilaku yang salah.
Walaupun sempat disangkal oleh pihak yang kontra bahwa film ini tidak akan menyadarkan, tetapi bahkan bisa membuat para oknum itu jadi apatis. Kalo ingin mengkoreksi, kenapa tidak di"rembug" kan dan dibicarakan secara baik-baik ? Ujarnya.

Mendongkrak Pembelian Tiket
Sudah jadi hal yang wajar di Indonesia ini, apabila ada sesuatu yang di"Zolimi" maka popularitasnya akan naik. Alih-alih mau mengajak untuk tidak menonton film ini, bisa jadi banyak orang yang akan berbondong-bondong ke bioskop untuk menonton film ini . Mereka datang dengan berbagai pikiran dan asumsi di benaknya. "Seperti apa film in ? Mau tahu yang mana sih yang di perdebatkan itu ? Yang mana sih yang kontradiksi ?" atau sekedar ikut2an saja ? Semuanya bisa terjadi karena efek dari terus diperdebatkan.

Positif dan Negatif
Positif ! Jika kita mampu menelaah film ini dan menjajaki film ini dengan mendalam. Tidak sepotong-potong. Film ini diangkat untuk menjadi kritik sosial agamis bagi para oknum yang menjalankan nilai-nilai islam untuk kepentingan pribadi. Dan tidak bisa dipungkiri praktek seperti itu masih saja dapat terjadi. Mungkin karena kurang kontrolnya terhadap ulama maupun pesantren yang tersebar di seluruh indonesia. Who knows ?

"Walaupun pada sebenarnyaIslam itu indah"

Negatif !Karena melihat dari kenyataan bahwa sebagian besar dari rakyat indonesia belum mampu menelaah dan mengkaji dengan baik. Seberapa besar saudara kita yang masih tamatan SD ? SMP ? SMA? Intelektualitas rendah ini yang dikhawatirkan hanya mampu melihat film ini secara sepotong-sepotong. Inginnya memperbaiki, malah terjadi sebaliknya. Mencontoh yang tidak benar !?!
Dan coba kita lihat dari acara yang disiarkan oleh TV Swasta banyak yang memutarkan sinetron. Indonesia lebih suka lihat sinetron daripada diskusi serta wacana-wacana yang mendidik. Lebih suka acara yang menjanjikan impian dari pada perdebatan yang membangun bangsa. Sehingga bisa jadi dengan pengetahuan yang minim dan tidak melihat kajian serta debat mengenai film tersebut, dapat menyimpulan persepsi yang salah. So ?


0 komentar:

Posting Komentar